Inspirasi
Jatiningtyas Pambayun: Eksis Menyebarkan Gaya...

Jatiningtyas Pambayun: Eksis Menyebarkan Gaya Hidup Sehat

“Hiduplah seolah-olah Anda mati besok. Belajarlah seolah-olah Anda ingin hidup selamanya”

Mahatma Gandhi

 

Sikap Gandhi dalam dalam menentang segala bentuk penindasan dan kekerasan telah membuat Gandhi menjadi salah satu orang yang paling menginspirasi dunia. Tak terkecuali Jatiningtyas Pambayun yang mengidolakan tokoh yang lahir pada 30 januari 1948. Sangking terinspirasinya, ibu dua anak ini selalu semangat menghadapi hari demi hari guna memberikan motiviasi hidup sehat.

Meski umurnya tak lagi muda (56), semangatnya memperjuangkan gaya hidup sehat aktif pada lingkungannya di daerah Kepanjen, Malang, patut diapresiasi. Adanya Lady’s Gymnastic pada pertengahan tahun 1989, yang sekarang berganti nama menjadi Klub kebugaran Lady’s, menjadi salah satu bukti eksestensinya menyehatkan dan mensejahterakan masyarakat.

Sebagai pemilik klub otomatis pola hidup sehat telah menjadi makanannya sehari-hari baginya. Fitness dan senam menjadi ritual wajib untuk menjaga stamina dan fit dalam beraktivitas. Tak peduli ajakan tersebut datang dari siapa saja, outdoor atau indoor, karena memang merupakan passion beliau.

Kisah kesuksesan yang ada padanya tak serta merta didapat begitu saja, membuat sebuah wadah berbentuk pusat kebugaran tak serta merta mampu menarik minat dari masyarakat sekitar. Adapun pengunjung yang mengisi buku tamu tak jelas arah tujuannya, dalam artian tidak memiliki target pasti dalam latihan fisik.

Meski omzet yang didapat terdengar cukup besar untuk ukuran gym sederhana, 15 juta perbulan, namun pendapatan tersebut hanya mampu menutup operasional saja, seperti tak ada sebuah keuntungan.

Titik balik bagi wanita akrab disapa Ibu Tyas, didapat ketika salah satu saudara dan anaknya (Prima) mulai mengenalkan beliau dengan Herbalife. Awalnya sempat ada keraguan, tetapi ketika seminggu dicoba mampu memperoleh hasil 2 kg penurunan berat badan. Ia langsung yakin bahwa inilah jalan sesungguhnya memperoleh hidup sehat. Dengan mengkombinasikan 80 % Nutrisi serta 20 % aktivitas fisik.

Kenal Herbalife, Gabung Primavit

Perkenalannya dengan Herbalife, sebuah perusahaan penyedia nutrisi global yang berbasis di Amerika Serikat. Menjembatani jalan untuk beliau bergabung dengan komunitas Primavit. Melalui primavit lah, manajemen pengelolahan Lady’s akhirnya dirombak sejak 1,5 tahun belakangan, serta membawa dampak ekonomi yang luar biasa hingga menyentuh angka 75 juta/bulan.

Selalu menyajikan nutrisi terbaik bagi pengunjung, perlengkapan untuk mengundang orang ke gym, buku panduan olahraga guna kebutuhan member, buku panduan makanan sehat, dan hal-hal lainnya. Hal itu menjadikan pemilik klub dengan pengunjung memiliki hubungan kekeluargaan erat.

Orang baru yang datang, akan dilayani dengan pelayanan terbaik, hingga tali silaturahmi pun terjalin seketika. Mau mengolah tubuh atau turun/ naik berat badan akan dipandu oleh instruktur yang berpengalaman dibidangnya.

Tak habis sampai situ, ibu Tyas kini telah merangkai mimpi lainnya, yaitu ingin memiliki pantai asuhan yang tak jauh berada dari lingkungan tempat tinggalnya. Berdasarkan track record beliau, impiannya tentunya bisa menjadi kenyataan asalkan kebersamaan, disiplin dan konsisten menjadi landasan untuk berbuat sesuatu bagi masyarakat.

Nah, bagi Anda yang tertarik mengunjungi klub kebugaran yang dikelolah oleh ibu Tyas, datang saja langsung ke Klub Kebugaran Lady’s, Jalan Pandji 186 B Kepanjen, Malang.

Inspirasi
Revolusi Perbaikan Dunia Pendidikan dan Kemis...

Revolusi Perbaikan Dunia Pendidikan dan Kemiskinan Ala Bill Gates

Siapa yang tak mengenal sosok Bill Gates pada abad 21 ini? Jika tak karena kekayaannya yang menjadikan ia sebagai orang terkaya dunia nomor wahid, bergantian dengan Warren Buffet beberapa tahun belakangan, maka tentu setiap orang paling tidak mengenal apa yang digagasnya semasa kuliah dahulu, Microsoft.

Kekayaannya yang mencapai 70 miliar dolar atau setara 735 triliun membuatnya tetap rendah hati dalam menjalani kehidupan. Padahal kekayaannya tersebut jika disetarakan, maka sebuah angka yang melebihi GDP (Gross Domestic Product) ekuador, Kroasia, sebagian besar negara Afrika, hingga hampir separuh APBN Indonesia pada 2013. Jumlah yang sangat besar pastinya, hal inilah yang membawa banyak pemikiran bahwa orang yang berlebih harta dapat mengendalikan jalannya ekonomi dan politik dunia.

Anggapan tersebut langsung terpatahkan ketika Bill Gates dan istrinya, Melinda Gates, lewat yayasan yang didirikan pada tahun 2010 bernama Bill and Melinda Gates Foundation. Tercatat gemercik dolar yang dikeluarkan telah melebihi angka 28 miliar dolar untuk komitmen mereka memerangi penyakit dan kemiskinan. Ia merasa kekayaannya lebih bernilai jika bisa membantu memecahkan ragam masalah yang menggeluti dunia saat ini.

Bill pun tak sendirian dalam hal ini, sesama koleganya Warren Buffet pada tahun 2010, menggagas gerakan Giving Pledge, sebuah gerakan yang mengajak orang-orang super kaya dunia untuk menyumbang sebagian pundi-pundinya demi menyelesaikan beragam permasalahan dunia, seperti pendidikan, kelaparan dan lainnya. Mark Zuckerberg, pendiri Facebook ikut pula menjadi bagian dari gerakan tersebut.

Rasanya kini hidupnya dibaktikan untuk yayasan, hal ini tentu bukan bualan semata, dalam sebuah wawancara dengan The Telegraph, pria yang bernama lengkap William Henry “Bill” Gates mengungkapkan “Sisa hidup saya adalah untuk yayasan. Mungkin ini adalah keputusan besar, tetapi saya sudah meneguhkan bahwa yayasan adalah prioritas utama di sisa hidup ini.”

Sungguh menarik mendengar niatan pria yang lahir 28 Oktober 1955 di Seattle, Amerika. Bahkan kekayaan yang kini dimiliki, lebih dari 95 persen akan dia alokasikan untuk kerja-kerja Gates Foundation, demi upaya menanggulangi kemiskinan dan penyakit.

Beberapa lembaga yang didukung oleh yayasannya telah membawa dampak yang cukup signifikan. Sebut saja, Global Funds to Fight Aids, Tubercolusis and Malaria, Polio Eradication, Global Allience for Vaccines and Immunisation, HIV Research dan Children Vaccine Program. Dan masih banyak lembaga lainnya yang didukung di sektor yang berbeda-beda.

Dari figur Bill Gates, kita dapat belajar, bahwa semakin banyak harta yang didapat, bukan berarti harus sedikit pula dalam berbagi. Semakin banyak memberi, semakin banyak pula yang didapat, begitu kiranya bunyi dari “the power of giving.”

Dengan ragam program yang masih dijalankan hingga saat ini, Gates Foundation tampaknya memang memainkan peranan besar dalam peperangan terhadap penyakit di masa yang akan datang. Ragam riset yang dibiayai, lembaga-lembaga advokasi yang didukung, proyek-proyek pendidikan yang mereka usung, sedikit demi sedikit akan mendorong revolusi di dunia kesehatan dan kemiskinan. Sebagaimana awal mula Bill Gates ikut mendorong revolusi di dunia sains dan teknologi.

 “Dulu di Microsoft saya menyaksikan revolusi PC dan internet, dan sekarang saya menyaksikan angka kematian menurun, berkat ditemukannya vaksin.”

-Bill Gates-

Inspirasi
Taufik Hidayat,” Selalu Lakukan Koreksi”,...

Taufik Hidayat,” Selalu Lakukan Koreksi”, Mengharumkan Nama Bangsa Lewat Bulutangkis

Hidup diawal era 2000-an mampu membangkitkan kembali ingatan akan putra bangsa yang mampu mengharumkan nama Indonesia di kancah Internasional. Bukan karena kemampuannya dalam melobi politik, bukan pula berupa bulir-bulir pencitraan, tak juga dari jalur pendidikan. Hanya memanfaatkan ranah olahraga, khususnya bulutangkis, ragam prestasi pun didapat, hal tersebut membuat sosok Taufik Hidayat menjadi panutan bagi anak muda kala itu.

Lahir di Bandung, Jawa Barat, pada 10 Agustus 1981, sebelum memulai karir profesionalnya, seperti kebanyakkan orang ia bermain di klub lokal bernama SGS Elektrik Bandung. Dukungan dari kedua orang tua akan minat dan bakatnya dituruti sejak kecil, meski mereka mengetahui akan konsekuensi yang didapat, seperti ranah pendidikan sang anak akan terganggu.

Beruntung Taufik Hidayat kecil mendapatkan kelonggaran akan prestasi bulutangkisnya semasa SMA, maka jelas ujian akhir susulan bisa terlaksana walau berada sendirian diperpustakaan sekolah. Setelah lulus SMA kemampuannya memainkan raket dan cok (shuttlecock) semakin berkembang. Akhirnya, pintu pelatnas Cipayung terbuka lebar baginya.

Terus mencoba, mengeluarkan segala kemampuan terbaik yang dimiliki, hingga tak jarang piala dan medali dari tiap event besar yang diikuti setia mengisi lemari prestasinya. Namanya pun dikenal dunia ketika berhasil menjuarai dan menyabet medali emas di negara lahirnya olimpiade, Athena pada 2004. Pertarungan dua set langsung (15-8) – (15-7) membuatnya disandingkan dengan para pebulutangkis yang menjadi jawara pada olimpiade terdahulu, seperti Susi Susanti & Alan Budi Kusuma (Barcelona 1992), Rexy Mainaiki & Ricky Subagja (Atlanta 1996), dan Candra Wijaya & Tony Gunawan (Sydney 2000).

Puncak kariernya terjadi ketika berhadapan dengan pebulutangkis asal China, Lin Dan di babak final kejuaraan dunia BWF pada 21 agustus 2005. Dari hal itulah, bisa membawa namanya mengisi peringkat satu dunia dalam bulu tangkis.

Meski kini namanya tak lagi muncul menghiasi headline media nasional, prestasinya selalu menjadi ingatan manis bagi sejarah bangsa. Mengingatnya kembali tentu akan membawa kembali ingatan pukulan smash tercepat 305 Km/Jam (Madrid 2006). Serta Backhand Smash tercepat 206 Km/Jam. Hingga kini banyak pemain bulu tangkis yang mencoba menduplikasi gaya bermainnya. Ialah inspirasi dari banyaknya atlet-atlet baru yang bermunculan.

Belajar Dari Kesalahan

Kebanyakan orang meng-upgrade kemampuannya dengan melihat lawan ataupun idolanya bermain, tetapi tidak untuk pria yang menikahi Ami Gumilar pada 2006 silam. Ia malah kurang suka melihat orang lain bertanding.

Hal itu diungkap dalam sebuah wawancara “Aku tidak suka menonton pertandingan (bulutangkis). Saya mencoba untuk tetap mengingat bagaimana saya memainkan pertandingan terakhir saya, karena aku bukan tipe yang suka menonton orang lain dan belajar dari mereka.” Ungkap Taufik Hidayat.

Benar saja, beberapa legenda bulutangkis turut mengungkap bahwa Taufik tak membutuhkan pelatih, kerena ia memiliki kemampuan yang berlebih, yang ia butuhkan adalah teman, dan Mulyo Handoyo (pelatihnya) cocok menjadi temannya.

Belajar dari kesalahan pribadi merupakan langkah yang bijak dibanding menyalahkan atau menjelek-jelekkan lawan. Bahkan Lin Dan yang pernah menjadi lawan berat menaruh hormat pada sosok Taufik dan mengakui bahwa Taufik merupakan salah satu atlet idolanya.

“Yang ingin menjadi atlet bulutangkis harus giat berlatih dan bekerja keras. Kedisiplinan sangat diperlukan untuk menjadi seorang juara”

-Taufik Hidayat-

Inspirasi
Jack Ma: Semangat Pantang Menyerah dan Kesaba...

Jack Ma: Semangat Pantang Menyerah dan Kesabaran Sebagai Kunci Kesuksesan

Semangat pantang menyerah dari Jack Ma terlihat ketika dinyatakan gagal untuk kedua kalinya masuk Universitas. Tentu hal tersebut tak membuat langkahnya berhenti, mencoba untuk kali ketiga akhirnya dilakoni, dan barulah resmi menjadi mahasiswa di Hangzhou Teacher’s Institute, sebuah perguruan tinggi khusus bidang pendidikan.

Tercatat lulus pada tahun 1988 dari Universitas, Ia pun menemui masalah baru seperti kebanyakan mahasiswa lainnya yang baru lulus, susahnya mencari kerja. Semua lamaran yang ditujukan kepada perusahaan tempat ia ingin bergabung, berakhir dengan penolakan.

Tak putus asa, Jack pun mencoba mengandalkan kemampuannya dalam berbahasa inggris untuk menjadi guru di Tiongkok. Fasihnya Ia berbahasa inggris bukan dikarena belajar di Universitas, terlebih karena pengalaman masa kecil di kampung halaman. Kunjungan Presiden Amerika Serikat, Richard Nixon pada tahun 1972 ke Hangzhou mengangkat nama kampung tersebut di dunia internasional sehingga laju kunjungan turis cukup masif. Hal itulah yang dimanfaatkan Jack Ma pada usia 12 tahun mengasah bahasa Inggrisnya dengan menjadi pemandu wisata.

Gaji yang diterima sebagai guru pun relatif kecil, berkisar di angka $12 - $15 per bulan. Beruntung, kemampuannya dalam berbahasa inggris menjadi pintu baginya mencicipi dunia bisnis pertama kali meski hanya sebagai translator pengusaha Tiongkok mengunjungi negeri paman sam.

Jack Ma dan Alibaba

Seperti dua hal yang tak terpisahkan, berbicara terkait Jack Ma maka mau tak mau harus menyeret Alibaba (eCommerce) yang dirintis olehnya. Jack tak sendiri dalam mendirikan situs yang mempertemukan supplier dan customer berskala global pada 1999. 17 orang temannya yang sama-sama berasal dari Hangzhou turut serta dalam mendirikan situs alibaba.com.

Nama Alibaba sendiri didapat ketika mengunjungi San Fransisco, dimana sebuah kedai kopi menggunakan nama tersebut sebagai nama kedai. Lalu terlintas pikiran untuk menggunakan nama tersebut, itupun hasil dari tanya sana sini. Tentunya semua orang mengetahui tentang cerita “Alibaba dan 40 Pencuri.” Masyurnya cerita legenda tersebut, membuatnya mantap dengan nama Alibaba.

Mudahnya dieja plus mudah diingat menjadi keunggulan guna memulai usaha. Hal itu tepat pada saat perekonomian Tiongkok mulai menggeliat serta pebisnis membutuhkan tempat untuk dapat berinteraksi dengan dunia luar. Berkat itulah Alibaba menjadi salah satu situs E-Commerce terbesar di Tiongkok.

Atas prestasinya bersama Alibaba, Jack Ma mendapat penghargaan pada tahun 2009 dari Time Magazine, menyabet gelar 100 orang paling berpengaruh didunia. Dan ia juga terpilih sebagai “Top 10 pengusaha paling disegani di Tiongkok” oleh majalah Forbes.

Meski pada tahun 2013 ia mengundurkan diri dari jabatannya sebagai CEO Alibaba. Pada usia telah memasuki kepala lima, ia memiliki total kekayaan bersih sebesar US$ 26,5 Miliar (Bloomberg Billionaire). Usahanya yang pantang menyerah patut menjadi tauladan bagi generasi muda yang masih mencoba meraba-rada dunia bisnis. Jadi, jangan ragu dalam menentukan pilihan & arah berbisnis.

“Hal yang paling penting Anda miliki adalah kesabaran”

Jack Ma

Inspirasi
Dahlan Iskan: Ketika Mimpi Menjadi Penyemanga...

Dahlan Iskan: Ketika Mimpi Menjadi Penyemangat

Gambaran kesederhanaan dari Dahlan Iskan semasa kecil sempat tertuang dalam novel dengan judul “Sepatu Dahlan” setebal 390 halaman rekaan Khrisna Pabichara. Bulir-bulir perjuangan hidup pria yang lahir di Magetan, 17 Agustus 1951 silam begitu terekam jelas dalam novel yang mengadopsi formula “From zero to hero” dari orang biasa menjadi luar biasa.

Terlahir dari keluarga yang notabene berada di bawah garis kemiskinan membuat anak ketiga dari 4 bersaudara dari pasangan Mohammad Iskan dan Lisnah. Dahlan dan saudaranya pun mau tak mau harus hidup dalam bingkai kesederhanaan. Untuk cita-cita saja hanya mampu mencatatkan mimpi sederhana, sebuah sepatu dan sepeda. Itulah impian yang ingin dicapainya.

Tinggal di kampung kecil dengan enam buah rumah yang letaknya berjauhan. Meski tanah subur yang memberi artian segala macam hasil bumi bisa tumbuh subur. Tetap saja tak membuat orang-orang yang berada tanah kelahiran Dahlan Iskan, Kebon Dalem, menjadi berlimpah dalam harta. Bukan apa-apa, rata-rata tanah yang dijadikan ladang sudah menjadi hak milik sang tuan tanah, sisanya milik negera.

Nguli nyeset, ngangon hingga membatik menjadi kesibukkan sehari-hari orang-orang Kebon Dalem guna memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tak terkecuali Dahlan Iskan. Tugas-tugasnya sehari-hari tak luput untuk nyambit rumput, nguli nyeset  dan nguli nandur ia kerjakan, sebagai perjuangan untuk menggapai mimpi.

Namun sayang, hasil kerja kerasnya hanya direlakan begitu saja demi sesuap tiwul, hingga mimpi tersebut hilang. Secuil harapan guna orang tuanya membeli sepatu baru sempat terlintas, akan tetapi ia sadar kemiskinan pasti setia menjadi sang penjegal mimpi. Meskipun begitu kemiskinan bukan sebuah penghalang baginya untuk terus semangat dan tak mudah putus asa.

Suatu ketika lapar mendatangi Dahlan muda, ia bergegas melilit sarungnya ke perut dengan ikatan yang kuat. Persahabatan serta nuansa kekeluargaan yang membingkai pertemanan menjadikan pribadinya seraya patriot sejati.

Menyusuri jalanan sepanjang 6 km menjadi rutinitasnya sehari-hari. Tak terhitung lagi bagaimana panasnya matahari saat menyentuh kulit, kaki yang terbakar karena tanpa alas kaki, belum lagi ditambah perut yang keroncongan. Rasanya hampir semua kesedihan dilukiskan dalam figur Dahlan Iskan semasa kecil. Sosok yang kuat dan bertanggung jawab dalam mengejar terus dua cita-citanya.

Kini, siapa sangka sosok anak kecil yang hidup jauh dari kata layak menjadi salah satu menteri pada kabinet Indonesia Bersatu II sebagai Menteri Negera Badan Usaha Milik Negara (2009-2011), setelah sebelumnya menjabat Direktur utama Perusahaan Listrik Negara (PLN) sejak akhir 2009, Komisaris PT Fangbian Iskan Corporindo (FIC), mantan Ceo Jawa Pos Group, dan lain-lainnya.

Dari figur beliau kita banyak belajar, banyak memiliki mimpi itu merupakan hal yang wajib. Tak peduli kecil - besar ataupun sekonyol-konyolnya. Toh, mimpi sama halnya dengan otak bisa di-upgrage setiap saat.

 

“Tuhan menaruh mu di tempat yang sekarang, bukan karena kebetulan. Orang yang hebat tidak dihasilkan melalui kemudahan, kesenangan, dan kenyamanan. Mereka dibentuk melalui kesukaran, tantangan dan air mata”

-Dahlan Iskan-

Inspirasi
Ade Rai: Si Kurus yang Menjadi Binaragawan Te...

Ade Rai: Si Kurus yang Menjadi Binaragawan Terkenal

Bertubuh kurus kadang menjadi kendala bagi beberapa orang dalam bergaul. Perasaan yang sama juga dirasakan bagi orang yang bertubuh gemuk, sehingga kurangnya rasa percaya diri disertai ragam omongan negatif dari lingkungan sepermainan menjadi pematik semangat guna memperoleh tubuh yang ideal.

Berproses itulah yang dilakukan oleh Ade Rai. Dahulu pria yang bernama lengkap I Gusti Agung Kusuma Yudha Rai, merasa sewaktu kecil tubuhnya yang kurus menjadi kendala baginya dalam mengarungi rutinitas. Bayangkan saja, ketika berusia 10 tahun, pria yang keturunan Bali ini hanya memiliki berat badan 25 kg, setara dengan berat anak usia 6 tahun. Menjelang remaja dengan tinggi 183 cm, berat badannya hanya berdiam di angka 55 kg.

Padahal mantan atlet binaragawan yang lahir di Jakarta pada tanggal 6 mei 1970 dahulunya sangat menyukai ragam olahraga, bulu tangkis salah satu diantaranya. Meski belum memperoleh hasil yang maksimal, keaktifannya di dunia bulu tangkis sempat mengisi hari-harinya, meski akhirnya kandas ditengah jalan, dikalahkan dengan kesibukkannya menjalani perkuliahan di FISIP UI jurusan Hubungan Internasional.

Hal itu bukan berarti menjadi alasannya untuk berhenti olahraga, akhirnya Ia menentukkan pilihan untuk menekuni olahraga binaraga (seni membuentuk tubuh) dengan secuil motivasi, guna memiliki tubuh yang atletis bukan malah kurus tinggi.

Kerja keras takkan pernah berbohong akan hasil. Begitu kiranya gambaran pada saat itu, ketekunannya menggeluti binaraga selepas lulus kuliah membawanya memenangkan prestasi internasional pertamanya yaitu Mr. Asia (1995 & 1998).

Peningkatan bentuk tubuh yang semakin atletis serta six pack mulai terbentuk, membuat percaya dirinya semakin meninggi. Ragam turnamen berskala lokal hingga internasional Ia ikuti. Raihan prestasi pun didapatkan sebagai atlet binaraga. Puncaknya pada tahun 2000, pria yang telah lama menetap di Jakarta menggoreskan namanya dalam gelar juara dunia Superbody Profesional dan Musclemania Profesional. Dua gelar ini sekaligus mengakhiri euphoria-nya dalam mengikuti kompetisi.

Mendirikan Klub Sehat Sendiri

Di mata masyarakat Indonesia jika berbicara terkait bentuk tubuh yang ideal, maka seluruh suara mengarah pada sosok Ade Rai. Layaknya sebuah ikon hidup sehat, Ia pun sering mengadakan event antar pelajar dan mahasiswa hingga mengadakan Pesta Raga setiap tahunnya. Sebuah ajang bagi seluruh atlet binaraga nasional untuk bertanding.

Guna memfasilatasi orang lain untuk hidup sehat, Klub Ade Rai pun Ia dirikan untuk memfasilitasi orang yang ingin sehat melalui jalur olahraga. Selain itu, Ia aktif pula diundang ke ragam seminar, talkshow di televisi & radio atau menjadi juri dari rangkaian turnamen untuk memuluskan misi mengkampanyekan binaraga.

Kini Ade Rai fokus mengembangkan bisnis waralaba Gym, bisnis suplemen sehat, serta mendirikan institusi program pelatihan sertifikasi bagi profesional di bidang fitness. Anda mau mengikuti Jejak Ade Rai?

 

“Sehat tidak menarik selagi kita miliki. Sehat jadi begitu menarik pada saat kita tidak memilikinya yaitu pada saat sakit”

-Ade Rai-

Inspirasi
Chairul Tanjung: Beda Disiplin Ilmu Bukan Ala...

Chairul Tanjung: Beda Disiplin Ilmu Bukan Alasan Untuk Tak Sukses

Jika dicermati secara seksama, bukan hal yang lazim ketika seseorang mendapatkan pekerjaan yang jauh dari disiplin ilmu yang dicerna secara matang dibangku kuliah. Chairul Tanjung (CT) atau yang akrab dengan julukan si anak singkong juga mengalami hal yang sama. Menuntut ilmu di Fakultas Kedokteran Gigi di Universitas Indonesia tahun 1981, sekarang justru menikmati keuntungan finansial atas usahanya yang berkembang di ragam dunia bisnis.

Ternyata ada cerita dibalik haluannya mengarah ke dunia bisnis seperti sekarang yang ditekuni. Dulu semasa kuliah, ia sempat terkendala problema klasik membayar biaya kuliah. Demi menutupi hal tersebut, ragam bisnis kecil-kecilan lantas dicoba, mulai dari menjual buku stensilan, kaos dan sebagainya. Hingga kemudian berkembang membuka toko peralatan lablatorium dan kedokteran di bilangan Senen Raya, Jakarta pusat. Namun tak bertahan lama, maka gulung tikar tak terhindarkan oleh pria yang lahir di Jakarta 16 juni 1962 silam.

Meski telah aktif didunia bisnis semenjak kuliah, CT sendiri sempat pula menyabet gelar mahasiswa teladan tingkat nasional tahun 1984-1985. Membuktikan bahwa tak Cuma naluri bisnis semata yang menjadi modal dasar bagi pria yang sempat bertengger diurutan ke-937 dari dari 1000 orang terkaya dunia versi majalah Forbes dengan total kekayaan senilai USD 1 Miliar, tetapi bisa menjadi tauladan bagi mahasiswa lainnya semasa ia berkuliah, betapa tidak, saat memasuki 2014, posisi kekayaannya melejit hingga berdiam di angka 375 dunia, dengan total kekayaan senilai USD 4 Miliar.

Mulai Membangun Bisnis Profesional

Moment yang ditunggu akhirnya tiba, kelulusan dari almamater tempatnya menuntut ilmu. Maka masuklah Ia merambah dunia profesional dalam merintis bisnis. PT. Pariarti Shindutama, itulah nama perusahaan yang didirikan bersama ketiga rekannya pada tahun 1987. Saat itu Ia mendapatkan pinjaman modal dari Bank Exim sebesar  150 juta rupiah guna memulai usaha memproduksi sepatu anak-anak untuk kebutuhan ekspor.

Beruntung saat itu dewi fortuna sedang berada di pihaknya, pesanan 160 ribu sepatu langsung datang dari Italia. Namun sayang, perbedaan visi dan misi membuat CT memilih mundur dari bisnis yang dilakoninya. Hal itulah yang menjadi cikal bakal Ia membangun piramida usahanya sendiri.

Berkat kehebatannya membangun jaringan, mampu membuat usaha yang dikelola bisa berkembang. Sehingga lihatlah sekarang. Bisnisnya telah dibangun dimana-mana, mulai dbidang keuangan, properti hingga multimedia.

Sehingga perusahaan yang tadinya berlabel Para Grub, berganti nama menjadi CT Corp tertanggal 1 desember 2011. CT Corp sendiri terdiri dari 3 perusahaan sub-holding (Mega Corp, Trans Corp, dan CT Global Resources).

Jadi bagi kalian yang ingin sukses, ketekunan serta kerja keras selalu menjadi landasan utama. Jangan karena fokus pada satu disiplin ilmu lantas tak bisa menggarap hal lainnya. Hidup adalah suatu proses pembelajaran, dan setiap moment harusnya dicerna guna menjadi bekal buat ke depan lebih baik.

 

“Tidak ada keberhasilan tanpa kerja keras, keuletan, kegigihan dan kedisiplinan. Hal itu juga harus dibarengi dengan sikap pantang menyerah dan tidak cepat putus asa”

-Chairul Tanjung-

Inspirasi
Liem Swie King: Menaklukkan Dunia Bulu Tangki...

Liem Swie King: Menaklukkan Dunia Bulu Tangkis Dengan “King Smash”

Di era kekinian sangat sukar melihat pemain bulu tangkis yang serba lengkap. Kadang hanya jago di permainan net saja, ada juga yang smash saja, cuman pas berduel net baru kalang kabut memutar otak.

Untuk itu mengenal satu sosok yang bisa menjadi pemain serba lengkap tentu sukar, namun ada satu nama dengan permainan net yang tajam dan halus, stroke-nya lengkap dipadu dengan smash-nya yang keras sehingga membuat nyali lawan ciut sebelum berhadapan dengannya di sebuah kompetisi.

Liem Swie King begitulah masyarakat mengenal pria yang lahir di Kudus, Jawa Tengah, 28 Februari 1956 silam. Legenda bulu tangkis kebanggaan Indonesia satu itu, memiliki trade mark tersendiri dalam melakukan smash, King Smash begitulah orang-orang kebanyakkan menyebutnya. Dilakukan sambil melayang, shuttlecock dipukul saat tubuh belum menyentuh tanah.

Kecintaan King dalam bermain bulu tangkis telah di pupuk sejak kecil, dulu ketika akan bermain dia memasang sendiri net di lapangan. Kerasnya sang ayah ketika melihat anaknya kalah membuatnya berpikir dua kali pulang ke rumah jika hanya membawa oleh-oleh berbentuk berita kekalahan. Melalui hal itulah menjadi penyemangat yang bisa memacunya untuk terus menjadi juara.

Di mata dunia kejayaan dari King mulai diperlihatkan ketika bertarung dengan maestro bulu tangkis Indonesia lainnya, Rudi Hartono, pada pertandingan final All England 1978. Usahanya untuk meraih juara akhirnya dicapai ditempat tersebut. Mulai dari situ Ia mendapat animo dari dari para pecinta bulu tangkis Indonesia.

Tahun berikutnya, tepatnya 1979 Ia kembali meraih gelar juara tunggal putra pada All England, serta selang satu tahun pada 1981 All England kembali di raihnya. Prestasi lainnya dalam membela panji merah putih ialah pada saat meraih juara pada piala Thomas (1976, 1979 & 1984).

Semua prestasi yang didapat tak lepas dari cerita gudang pabrik rokok Djarum. Tempat tersebut menjadi awal mula dari Liem Swie King kecil berlatih. Gudang yang dari pagi hingga siang digunakan sebagai tempat produksi, pada sore harinya, setelah aktivitas melinting rokok selesai, gudang tersebut disulap menjadi lapangan bulu tangkis.

Diantara aroma tembakau, para karyawan, masyarakat umum, tak terkecuali King berlatih ditempat itu. Bakat King mulai tercium oleh CEO dari PT Djarum, Budi Hartono. Dia lalu menginstruksikan kepada King untuk latihan servis dengan sasaran ke sudut-sudut jaug base-line. Pada setiap sudut ditempatkan tong kecil dan setiap bola yang masuk ke tong diperhitungkan jumlahnya.

Berkat melihat langsung bakat dari King, Agus Susanto yang juga kakak ipar budi Hartono diminta turun tangan melatihnya ke tingkat serius. Dan dari didikan beliau ragam perstasi akhirnya bisa didapatkan satu demi satu.

Meski diantara banyaknya prestasi yang di dapat, King tak luput dari banyaknya kritik yang menghunjani ketika peformanya mulai menurun. Namun, begitulah hidup, kadang berada diatas, kadang pula dibawah. Intinya, nikmati setiap proses yang dilalui, dengan begitu kita bisa mempelajari kelebihan dan kekurangan.

Inspirasi
Hamish Daud dan Komitmen Mencintai Indonesia

Hamish Daud dan Komitmen Mencintai Indonesia

Meski lahir dari ayah yang berwarga negara Australia serta Ibu yang asli Indonesia. Tak berarti Hamish Daud, pria yang memiliki wajah blasteran tak cinta akan Indonesia. Kecintaan akan Indonesia ditumbuhkan oleh peranan ayah, orang Australia yang mencintai Indonesia. Sejak kecil pria yang bernama lengkap Hamish Daud Wyllie ini selalu diajak menelusuri Indonesia dari ujung barat hingga ujung timur, bahkan ke pulau-pulau tak berpenghuni sekalipun.

Memori manis menjelajahi Indonesia bersama sang ayah membuatnya seorang presenter acara petualangan di televisi semakin mencintai Indonesia. Menyaksikan letusan anak gunung Krakatau di selat sunda merupakan salah satu yang menarik. Hal lainnya yang membuatnya senang dengan laut ialah moment dimana ikut mencari titik-titik penyelaman baru.

Kecintaannya akan indonesia tumbuh samakin kuat dikala pria yang lahir di Gospord, Australia 8 maret 1980 lalu telah dewasa. Ikan-ikan dengan warna warni yang menggoda serta terumbu karang yang eksotis membuatnya selalu rindu. Bahkan ketika dilanda dengan masalah, Indonesia selalu memberi ruang baginya. Ia berkemas sendirian ke tempat tertentu. Kemudian melakukan ragam aktivitas yang sangat membantu seperti Surfing, Diving, Spearfishing, dan naik motor.

Menyukai Seni Arsitektur

Indonesia seperti teman, sekaligus rumah, begitulah gumamnya. Meski saat ini ia justru lebih dikenal sebagai presenter dan aktor. Sebenarnya passion-nya adalah arsitek, passion tersebut telah ada padanya sejak usianya baru beranjak 12 tahun.

Passion tersebut didapat ketika Hamish kecil mencoba meminta uang jajan kepada ibunya yang punya usaha furnitur, bukan uang yang didapat malah diberi kayu untuk dijadikan mebel. Keahlian mendesain ternyata terbawa hingga sang anak, buat produk baru dapat uang jajan.

Bagi Hamish bidang arsitektur memiliki dua elemen yang sama, kreativitas dan detail. Seperti yang diungkapnya dalam sebuah wawancara “Jika main film, saya harus bisa tahu detail karakternya, apa dia suka kopi, apa dia suka baca buku, mungkin dia punya masalah keluarga. Kalau untuk mendesain rumah saya suka jalan bareng dengan klien, misalnya, saya melihat cara dia pakai baju, aktivitas yang disuka, keluarganya.. sehingga setiap proyek hasilnya berbeda” ujar Hamish.

Cinta Indonesia Luar Dalam

Membahas Indonesia dengan keindahan seperti tak ada matinya jika diulas satu persatu. Namun belum nasionalis namanya jika tak mampu mengenal budaya dari ragam suku bangsa yang ada di Indonesia.

Maka dari itu, Ia memiliki impian untuk melakukan hal yang seperti yang dilakukan sang ayah kepadanya. Dengan bangga kemudian berkata “Ini belum seberapa indah, masih banyak tempat lain yang tak kalah indah, nak.”

Tentunya hal tersebut membuktikan sebuah komitmen, kecenderungan terlahir sebagai orang Indonesia membuat sebagian orang merasa nyaman dengan posisinya saat ini sehingga rasa primordial mendominasi seluruh akal pikir. Sebuah wujud kebanggaan akan budaya suatu daerah sendiri dan menganggap segala berada dibawahnya. Semisal berbicara Indonesia namun cenderung membahas bali semata, jika masih seperti itu, itu tandanya mereka belum mencoba, melihat, dan mengalami seluk beluk bagian dari Indonesia lainnya.

 

“Berpetualang adalah gaya hidup saya. Koper dan Indonesia adalah rumah terbaik”

-Hamish Daud-

Inspirasi
Kunci Sukses: Lakukan Hal Berbeda & Berpikira...

Kunci Sukses: Lakukan Hal Berbeda & Berpikiran Terbuka

Apakah kita pernah menebak saat revolusi Prancis yang berawal dari perlawanan rakyat Prancis yang mampu meruntuhkan monarki absolut, yang pada zamannya merasa paling benar?

Beruntung setelah kejadian itu kita kembali mengenal suatu sosok yang bisa di bilang beda warna ataupun berbeda corak. Bukan bermaksud rasis, memang benar dahulu kulit hitam diberi label paling hina hingga selevel budak. Nelson Mandela pun hadir. Segenap usahanya, hingga di jebloskan kepenjara, sampai-sampai tak ada satupun yang menyangka ialah yang mampu membawa perubahan itu ke permukaan. Bahkan tak ada yang mengira, untuk selanjutnya Ia di nobatkan menjadi presiden Afrika pertama yang berkulit hitam. 

Segenap realtita diatas mengingatkan pada sepenggal kalimat yang mampu membuat kaki segera melangkah maju “Cobalah untuk melakukan hal yang berbeda, membuka diri anda ke orang-orang berbeda, dan menghargai pendapat orang lain.” ujar John C. Maxwell, dalam buku rekaannya How Successful People Think.

Orang yang berpikiran sempit pada hal apapun, tidak akan mampu melangkah kemana-mana. Membuka wawasan dan mulai menerima hal baru merupakan langkah yang tepat untuk sukses. Bekerjasama dengan orang, membayangkan hal-hal baru hingga mencoba berinovasi merupakan kunci bagi anda melangkah ke depan.