Inspirasi
Wage Rudolf Soepratman: Dengan Biola dan Pena...

Wage Rudolf Soepratman: Dengan Biola dan Pena untuk Indonesia Merdeka

“Telah gugur pahlawanku /Tunai sudah janji bakti /Gugur satu tumbuh seribu/ Tanah air jaya sakti”

Sepenggal lirik lagu rekaan Ismail Marzuki yang diberi judul Gugur Bunga, dapat memberikan suatu pencerahan agar generasi berikutnya dapat mengenang jasa para pahlawan yang telah lebih dulu hidup dan berjuang untuk tanah air. “Mati satu tumbuh seribu” itulah diharapkan, sebuah keinginan yang tak muluk-muluk untuk menjadikan pahlawan sebagai figure yang patut di contoh.

Gugur bukan berarti kalah, gugur bukan berarti ajal menjemput terlalu cepat. Gugur tak juga berhenti berjuang. Gugur bukan alasan untuk menjadi penghias tembok sekolahan dengan label pahlawan nasional. Bukan pula bertempur melalui liang lahat. Tapi semangat mereka hingga kini, terus menerus meracuni bagaikan virus yang tersebar untuk calon pahlawan-pahlawan baru. Walaupun kini mereka telah tiada.

 

Amalan serta semangat para pahlawan memberikan angin segar bagi benih-benih pemimpin yang baru lahir ke muka bumi. Tak harus dengan senjata ataupun sebuah bambu. Jika kita masih ingat sejarah, satu nama yang tercatat sebagai pahlawan nasional tertanggal 25 juni 1971, sejarah mengangkat Wage Rudolf Soepratman atau yang popular di sebut W.R Soepratman, memberikan potret seorang pahlawan yang justru berjuang untuk indonesia dengan biola dan pena.

Meskipun beliau tak sampai tahu bagaimana pembacaan teks proklamasi oleh Soekarno dan Hatta, gugur sebelum kemerdekaan bukan alasan seorang komponis yang sukses menanam saham untuk kemerdekaan dengan menggubah lagu kebangsaan “Indonesia Raya” ini dapat dikatakan gagal.

Berkat lagu gubahan personil Jazz Band “Black and White” ini pada kongress pemuda 2, berhasil membawakan lagu kemerdekaan pertama kali ke muka publik meskipun tanpa syair, karena kata-kata dalam lirik tersebut dikhawatirkan akan memicu sikap represif aparat penjajah. Berawal dari hal itu, berbagai organisasi politik pemuda di nusantara menjadikan lagu tersebut sebagai lagu wajib untuk membuka berbagai rapat mereka. Semacam pematik yang menyulut api semangat membawa kemerdekaan hingga ke depan pintu gerbang.

 

Dan kini, kita telah menikmati kemerdekaan, menyanyikan lagu kebangsaan dengan sekeras-kerasnya, tanpa harus tertekan oleh para penjajah yang telah di usir 70 tahun yang lalu. Menghargai karya beliau merupakan suatu keharusan. Layaknya sebuah vitamin, melalui karya beliau mencoba membuka mata kita. Bahwa perjuangan bisa dilakukan dengan banyak cara, terlebih lagi berjuang dalam kehidupan.

Inspirasi
Menteladani Musisi Besar yang Peduli Lingkung...

Menteladani Musisi Besar yang Peduli Lingkungan, Jack Johnson

Memiliki concern terhadap isu-isu lingkungan tidak lengkap tanpa aksi nyata. Membawa tumblr, menolak kresek, hingga menanam pohon keluar sebagai ide sederhana untuk melakukan sebuah aksi yang berdampak nyata. Semua orang bisa mengaplikasikan tanpa terkecuali, tergantung pada minat personal manusia. Coba anda bayangkan sejenak, ketika aksi yang berawal dari satu orang, dikalikan jutaan penduduk indonesia, otomatis akan menciptakan perubahan secara nasional. Apakah bisa terwujud?

 

Hal yang menjadi problema saat ini siapa yang akan mengawali sebuah aksi? Tanpa disadari beraksi kadang butuh figur yang tepat untuk menginspirasi setiap langkah demi langkah untuk membuat perubahan. Figur itu bisa siapa saja, entah orang tua, guru bahkan sekelas selebritis pun memiliki daya tarik menjadi seorang panutan. Ketika melirik seorang public figure, maka tidak salahnya kita membahas salah satu dari mereka yang mampu membuat dampak secara global.

 

Aloha... begitulah pria yang lahir pada 18 mei 1975 silam, Jack Johnson menyapa penggemarnya, seorang penyanyi beraliran Folk-Rock kelahiran Hawaii. Belasan album telah ia rilis untuk membuktikan eksistensinya didunia musik. Maha karya terbesarnya terangkum dalam album Brushfire fairytale (2001), On and On (2003), In Between Dreams (2005), To The Sea (2010), de el el. Tidak hanya dimusic, ia tercatat pula sebagai seorang Filmmaker dan surfer (peselancar). Hal inilah yang membuat musisi sekelas John Mayer menjadikan ia sebagai salah satu musisi yang menginspirasinya dalam berkarya. Musisi indonesia pun tidak luput mengaguminya, sebut saja Nugie hingga Oppie Andaresta menjadikannya sebagai panutan.

 

Sedikit pula yang tahu bahwa ia sangat concern terhadap lingkungan. Beberapa hanya tahu sosok Jack hanya seorang musisi saja. Oleh karena itu, marilah melirik aktifitasnya dibelakang layar.

All At Once – Your Voice, your Choice, Your Action

All At Once adalah sebuah kampanye peduli lingkungan yang digagas oleh Jack Johnson dari tahun 2008 dengan jargon “An individual action, multiplied by millions, creates global change.” Melalui kampanye ia melakukan social action terkait perubahan positif untuk lingkungan baik lokal maupun global.

Inspirasi
Vocia Martis: Dibalik Medali 21K

Vocia Martis: Dibalik Medali 21K

Rambut pendek, berperawakan cantik, serta tubuh yang ideal mampu memberikan gambaran akan sesosok wanita yang sempurna dimata kaum adam. Namun tak hanya itu, jika cantik saja dijadikan patokan tidak lah cukup. Rasanya ingin mengenalkan sesosok lainnya, semisal yang dapat menginspirasi dalam hal gaya hidup sehat aktif.

 

Dari sederet refernesi yang dikenal, pilihan akhirnya jatuh pada sosok ibu dua anak bernama lengkap Vocia Martis, dibalik kecantikkannya, beliau patut diacungi jempol terkait prestasinya dibidang olahraga khususnya Lari. Kecintaannya akan olahraga yang dimulai dari bangku sekolah, hingga akhirnya mampu menjuarai event 10K HUT TNI, 10K HUT Komando Pertahanan Udara Nasional di Halim berkarir di TNI AL.

Tentunya semua tak mudah didapat. Kebersamaan, Disiplin dan konsisten selalu menjadi kunci. Begitulah yang ia coba aplikasikan dalam passionnya di dunia lari. Mengambil waktu 2 kali seminggu untuk latian ringan maupun keras, dimulai dengan jarak 5K hingga 10K. Fase tersebut dilakukan secara berulang-ulang dan tak jarang diselingi dengan gowes. Sayangkan semangatnya sempat menurun pasca melahirkan anak kedua.

 

Rutinitas latihan cenderung hanya menyentuh angka 2K saja, tubuhnya sudah tak kuat untuk melanjutkan. Engkel dan tulang kering tak luput dari rasa sakit. Tubuh yang dulunya ideal kini tak lagi terlihat. Awalnya ia cuek-cuek saja dengan bentuk tubuh tersebut. Komplain yang didapat dari sini menjadi tak asing di telinga. Hingga suatu saat, sehabis liburan keluarga di bandara ia diminta surat pernyataan hamil, padahal tidak sedang hamil. Saat itulah ibu yang akrab disapa dengan Vocia tersebut mulai sadar, “ternyata gemuk juga ya!,” gumamnya.

“Sehat itu mahal, tetapi sakit justru lebih mahal”

Semua akan setuju jika hujani pernyataan ‘gemuk itu tak sedap di pandang.’belum lagi ia sering cepat merasa lelah, pulang kerja langsung tidur. Ditambah dengan sakit maag diselingi dengan migrain. Jalan pintas nyaris saja menjadi pilihan, dengan tabungan yang ia miliki, hampir saja mengikuti program langsing ke dokter.

 

Beruntung saat itu ia mengenal Primavit, bimbingan yang terus menerus diberikan terkait gaya hidup sehat aktif terus diberikan, tak lupa juga nutrisi tambahan turut diselingi sembari berolahraga aktif. Hasilnya, berat badan yang sempat menyentuh angka 75 kg turun 14 kg dalam waktu 4 bulan. Sekarang dengan berat 60 kg, ibu yang lahir di Malang 30 tahun lebih pede untuk terus menekuni hobinya di dunia lari. Tak tanggung-tanggung kategori 21K dalam gelaran “herbalife Run 2015” telah ditaklukkannya. Hal tersebut menjadi bukti dari usaha dan kerja kerasnya selama ini. Sedikit mengutip kata beliau Kuncinya 100 Minset/Pola Pikir dulu yang harus dirubah, 80% Pola Makan yang tepat dan sehat, 20% Olahraga Teratur.”

Hingga saat ini dunia lari masih ia lakoni, lagu-lagu dari Linkin Park selalu setia berada di smartphone nya ketika berlari. Semangat ini tak hanya miliknya sendiri, oleh karena itu semangatnya senantiasa ditularkan pada keluarga, rekan kerja hingga lingkungan sekitar.

Inspirasi
Sugeng Imam Santosa: Sebuah Pembuktian “Bah...

Sugeng Imam Santosa: Sebuah Pembuktian “Bahwa Kita Semua Mampu”

Adanya anggapan “tingkat kemapanan seseorang mampu terlihat dari perutnya yang membuncit,” mampu memberi sinyal bahwa tiap orang yang buncit sama dengan orang kaya atau mapan. namun tentunya, tak semua orang akan sependapat hal tersebut, Sugeng Imam Santosa misalnya, beliau yang dulunya telah mapan dan berperut buncit, merasa ada yang kurang kehidupannya. Hal itu tak lain adalah kesehatan.

Gaya hidup yang diadopsi membuatnya memilih jalan pola makan yang salah. Asumsi-asumsi kemewahan dalam menikmati hidup dianutnya, hanya berpatokan memilih makanan dengan nikmat dan gurih tanpa melirik kualitas makanan membuat aktivitas olahraga pun menjagi korban hampir tak tersentuh sama sekali.

Akibatnya Sugeng mengalami obesitas dengan pengaruh merasa mudah lelah, gampang mengantuk, serta tanpa terasa menjadi boomerang bagi produktivitasnya dalam bekerja. Hal itu menjadikan bapak yang memulai karier sebagai pengusaha dibidang interior ini pun tak terlalu memperhatikan kesehatan pribadi apalagi keluarga. Padahal secara ekonomi beliau termasuk dalam kategori berkecukupan.

 

Awal Perubahan

Mulai dari problema tersebut ia menanamkan bahwa kesehatan merupakan prioritas utama, baik bagi dirinya, keluarga maupun lingkungan sekitar. Dalam usia yang telah menyentuh 40 tahun, ia justru berpikir untuk mengubah gaya hidup dan mencoba lebih banyak berinvestasi untuk kesehatan.

Keinginan yang kuat membawanya mengenal Herbalife, produk berupa nutrisi menjadi andalan yang di konsumsi secara rutin, baik di pagi hari, siang hari, hingga berlanjut pada malam hari. Tak hanya mengandalkan nutrisi saja, olahraga rutin terut dilakukan, sehingga Satu bulan kemudian dampaknya dapat terlihat, baju-baju yang dengan size XXL mulai kendor ia kenakan.

Dalam lingkup pertemanan pun, banyak yang surprise dengan perubahan yang didapat. Tanggapan “luar biasa” pun lazim terdengar saat itu. Kebetulan Sugeng saat itu memiliki passion dalam olahraga bulu tangkis, membuat teman-teman yang berada pada lingkaran tersebut merasa perubahan itu begitu cepat dapatnya, padahal sebulan sebelumnya mereka masih sama-sama memiliki perut buncit.

Banyak dari rekan-rekannya pun tertarik mengikuti langkah dari Sugeng, hal itu juga yang menandakan awal dari langkah beliau turut serta menjadi bagian tak terpisahkan dari Herbalife. “Hanya memberi bukti, bukan janji” itulah yang beliau pegang hingga saat ini. Mencoba menginspirasi satu orang, dua orang hingga ratusan orang.

 

Menantang Diri

Pola hidup serta pola makan yang baik otomatis memiliki dampak kepada kehidupan. Apalagi ditambah dengan nutrisi tentu sudah lebih dari cukup. Stamina yang bertambah, olahraga yang mulai rutin membuat pria yang akrab disapa Sugeng mempunyai keinginan lainnya.

Rasa belum puas mendasari langkahnya untuk menantang dirinya mengikuti acara yang digagas oleh Herbalife berupa Bali International Triatlon 2015 di Bali  pada oktober lalu. Meski jarak yang diambil hanya 5K, namun baginya hal ini merupakan sesuatu yang baru. Sensasi dari jarak tersebut membuka matanya bahwa berlari itu menyenangkan. Sehingga beliau tak berhenti sampai situ saja, dalam gelaran tahunan Herbalife Run 2015 di Ancol pada november lalu, beliau kembali menantang diri untuk mengikuti ajang lari tahunan tersebut dalam kategori 10K, jumlah yang lebih banyak dari sebelumnya.

Ketika menyentuh garis Finish pun semangat dari langkah berikutnya kembali mencari peraduan baru. Terus menantang diri serta aktif menyebarkan budaya gaya hidup sehat aktif merupakan hal yang terus dilakukan hingga banyak orang dapat termotivasi akan kehidupan yang lebih baik.

Inspirasi
Davis Syahputra Rachman: Berbagi Kepada Sesam...

Davis Syahputra Rachman: Berbagi Kepada Sesama Sebagai kunci Sukses

“It's always more fun/ To share with everyone/ it's always more fun/ To share with everyone/ If you have two/ Give one to your friend/ If you have three/ Give one to your friend and me.”

Jack Johnson – The Sharing Song

 

Sosok seorang ayah bagi pria bernama lengkap Davis Syahputra Rachman (36) begitu menginprasinya untuk terus berbagi kepada sesama. Bagaikan Role Model, semangat sang ayah dalam berbagi tanpa pandang bulu menjadikan pria yang akrab disapa Abi menemukan berkah dalam kehidupannya. Semangat yang sama, tahapan yang sama, namun gaya yang cenderung berbeda itulah yang kini abi lakukan.

Menjadi kehidupan ala businessmen membuat Abi lumayan berkecukupan dalam hal materi. Lantas hal tersebut tak membuatnya puas. Sering kali ia merasa adalah yang kurang dalam hidup tak lain adalah berbagi. Mulanya ia membuka sebuah restoran, berkat wejangan sang ayah yang berkata “Abi, sebaiknya restoran ditutup saja, bisnis dibidang kesehatan lebih banyak membantu sesama. Ayah tidak mau lihat kamu terlalu disibukkan.”

 

Awalnya kata-kata tersebut tak diindahkan oleh Abi, sampai suatu ketika keponakannya jatuh sakit, baru setelah itu abi merasa kesehatan itu penting dan sudah menjadi harga mati. Sampai seorang teman menawarkan nutrisi untuk dikonsumsi keponakannya, Abi mencoba memberikan nutrisi tersebut, setelah di konsumsi, perubahan mulai terlihat, keponakannya bisa berangsur sembuh. Fix, disitu Abi langsung mengingat kembali wejengan sang ayah.

Tak pelak hingga saat ini, Abi terus melanjutkan misi tersebut dengan membuka Fit Club dengan label DF Club di daerah Bekasi Timur, Jawa Barat, sebagai wadah dimana orang-orang bisa menjaga kesehatannya melalui beragam fasilitas penunjang gaya hidup sehat aktif berupa tempat fitness, aerobic, yoga, belly dance, hingga zumba.

 

Aktif mengkonsumsi nutrisi menjadi amunisi abi mengawali langkah setiap harinya. Kesehatan yang prima didapat membawa artian hal yang sama harus dirasakan oleh semua orang, bukan hanya diri pribadi semata. Olahraga pun tak ia tinggalkan, hanya nutrisi tanpa adanya aktivitas fisik maka hasilnya takkan mencapai kata maksimal. Harus seimbang antara nutrisi dan olahraga, selaras dengan akal dan pikiran yang diberikan oleh sang pencipta guna memaksimalkan manusia dalam menjalani kehidupan.

Melihat orang lain sehat merupakan visi Abi, berawal dari berbagi kisah kepada Ibu Lisnawati yang berusia 51 tahun, Abi membimbingnya untuk tak sekedar berdiam dirumah dan menjaga cucu dirumah, kesehatan beliau menurut Abi sangat penting untuk dapat meluapkan euphoria kebahagiaan yang sesungguhnya. Dalam waktu 10 hari, luar biasa staminanya & semangatnya mengalami peningkatan yang signifikan. Hingga saat ini, ibu Lisnawati dengan raut muka yang dipenuhi senyum sering terlihat berlatih dan beraktivitas menyebarkan gaya hidup sehat aktif di Fit Club yang dibina Abi.

Hingga saat ini, semangat yang sama coba ditularkan kepada sanak familinya. Tak segan-segan Abi mengajak saudaranya yang kurang mampu untuk dibiayai kehidupannya hingga mencapai gelar sajana. Disela-sela kesibukkan Abi, sanak familinya ada ikut terjun dijalur yang sama dengan Abi, sama-sama memiliki misi untuk menyebarkan virus-virus gaya hidup sehat aktif melalui Fit Club sembari menjadikan hal tersebut sebagai mata pencaharian. Padahal Abi sendiri tak mengharuskan aktif diladang yang sama. Mungkin inilah yang dimaksud dengan “the power of giving”, memberi dulu, baru setelah itu memetik hasilnya.

Inspirasi
Ibu guru Nurul, Motivasi Bentuk dan Berat Bad...

Ibu guru Nurul, Motivasi Bentuk dan Berat Badan Ideal

Dibimbing Primavit, bergaya hidup sehat aktit, turun 15 Kg dan beliau kembali mendapatkan bentuk dan berat badan idealnya.

Inspirasi
Rizky Ekapaksi: Berkah Setelah Menikah

Rizky Ekapaksi: Berkah Setelah Menikah

Pertemuannya cenderung biasa, sedikit bicara, bertatap muka dan hanya bertegur sapa yang bersambut sederhana.

Euphoria kesuksesan tak terlepas dari dukungan sang istri yang juga merambah bisnis tersebut. Berdua tak hanya menyelami drama percintaan ala romantisme film-film, tetapi saling melengkapi serta mendukung satu sama lain guna memantapkan visi & misi menyehatkan orang banyak.

Satu persatu impian kini diraih, hingga dalam tahun ini rencana umroh dengan keluarga besarnya serta keluarga sang istri tinggal menunggu waktu. Sebuah moment yang nantinya akan selalu di ingat sepanjang napas masih dikandung badan.

Rizky Candra Ekapaksi (25) atau yang biasa disapa Kiki merasa tubuhnya yang kelebihan beban menjadi kendala mendekati sesorang wanita yang telah lama disukainya, Hani Rahma Sofilia.

Semuanya berubah ketika berat badan yang awalnya 89 kg, turun 27 kg, jika totalkan, saat ini berat badannya sudah menempati angka aman 62 kg. Perubahan bentuk tubuh tersebut mengundang perhatian sekeliling, hampir di seluruh lorong-lorong kampus tempat Ia menuntut ilmu di Kota Malang, Jawa Timur. Berkat hal tersebut, Ia mendapatkan perhatian dari Hani yang kemudian berlanjut dengan membina hubungan ke jenjang pernikahan.

Gaya hidup sehat aktif kini Ia terapkan dengan cara berlari sebanyak 3 kali seminggu, masing-masing hingga 5 km setiap harinya. Asupan makanan sehat juga mengisi daftar makanan yang Ia konsumsi sehari-hari. Ikan dan buah-buahan yang tinggi akan asupan vitamin C selalu tersedia di meja makan. Sehingga bukan hal yang aneh ketika pria yang mengidolakan David Beckham staminanya mantap, ditambah dengan produktivitas lebih dalam berbisnis.

Bisnisnya pun tak jauh dari hal yang membawa perubahan padanya. Menjadi independent distributor dari perusahaan nutrisi global yang berbasis di Amerika Serikat, Herbalife. Meski sekarang sudah berada di-track yang benar, namun awal-awal bisnis ia sempat berpangku tangan dan merubah arah bisnis dari nutrisi ke bidang lainnya.

Kegagalan demi kegagalan ia dapat, hingga akhirnya kembali lagi dan berfokus memantapkan hati berbisnis secara full time di Herbalife. “Itulah proses, mungkin saat itu saya rada malas dan boros. Saya pun menemukan jawaban dari saran istri untuk melanjutkan mimpi di Herbalife, dan itulah keputusan yang saya ambil” ungkap Kiki.

Puas? Dalam kehidupan tak ada kata puas. Berbisnis di Herbalife membuatnya memiliki manfaat seperti waktu luang yang banyak, finansial yang cukup, hingga kesehatan yang terjaga.

Kini, semua hal ia pelajari demi mengembangkan bisnis dan team kecilnya. Baik melalui pelatihan-pelatihan hingga support dari tim secara keseluruhan. Dan ia pun berkata

skill yang paling penting menurut saya ialah kemauan untuk belajar dan mau mendengarkan orang lain ketika berbicara.

“Tetaplah bersamaku jadi teman hidupku/ Berdua kita hadapi dunia/ Kau milikku milikmu kita satukan tujuan/ Bersama arungi derasnya waktu”

Tulus – Teman Hidup

Inspirasi
DF Club, Wadah Untuk Hidup Sehat

DF Club, Wadah Untuk Hidup Sehat

Gaya hidup sehat aktif merupakan bagian tak terpisahkan bagi masyarakat urban. Kini, beragam tempat yang menawarkan jasa untuk hidup sehat mudah ditemui ditiap sudut kota. Ada yang menyajikan yoga, adapula yang mengandalkan Fitness Center sebagai sarana meningkatkan latihan kardio dan beban. Keragaman itulah yang membawa DF Club merasa pantas untuk diulas lebih jauh.

Meski dari luar tampak biasa saja, Sebagai salah satu Club sehat, DF Club menawarkan beragam fasilitas penunjang hidup sehat. Berlokasi di Ruko Blok R No. 1-2 Mutiara Gading Timur, Bekasi Timur, Jawa Barat. Membuat tempat ini tak pernah sepi dari pengunjung. Mulai dari remaja hingga dewasa, aktif menghabiskan waktu berlama-lama ditempat tersebut.

Hanya dengan merogoh kocek sekitar 30 ribu per-sekali masuk, anda dapat mengakses seluruh fasilitas yang ditawarkan pada lantai 1 berupa tempat fitness serta lantai dua yang memfokuskan pada latihan aerobic, belly dance, zumba, serta yoga. Tak usah takut ataupun malu berkunjung, instruktur yang bertugas dengan ramah akan menyambut anda, bahkan tak segan-segan segelas nutrisi bisa diberikan secara cuma-cuma agar kebahagiaan selalu terlukis diwajah pengunjung.

Total 100-150 pengunjung bisa memenuhi DF Club, namun bukan berarti semuanya bisa ditampung. Pengunjung dibagi dalam 3 waktu kunjungan. Ada yang cuma pagi hari, sore hari dan malam hari. Cukup mudah mengetahui jadwal ketika ingin yoga ataupun zumba, tinggal datang ke meja Receptionist untuk mendapatkan informasi waktu lengkap dengan nama instrukturnya.

Semakin sering anda berkunjung, semakin besar pula kesempatan anda membawa pulang buah buah tangan dari DF Club. Mereka biasa menyebutnya dengan Costumer Loyalty Program. Sehabis buliran keringat yang membasahi leher membuat anda terlihat sexy, sauna adalah fasilitas lainnya yang bisa anda coba guna merelaksasi otot yang tegang sehabis berolahraga. Lengkap kan?

Informasi Lebih Lanjut:

DF CLUB
Ruko Blok R No. 1-2 Mutiara Gading Timur
Bekasi Timur, Jawa Barat.
 

Inspirasi
1 Mil Perhari

1 Mil Perhari

“Setiap orang adalah atlet, masalahnya, sebagian berlatih dengan rutin, dan sebagiannya tidak”

Dr. George Sheenan (Pelari, Penulis, & Filosof)

 

Memiliki mimpi untuk hidup sehat aktif perkara mudah, hal yang sulit justru terletak pada pelaksanaan dari kata-kata. Berjanji itu mudah, tapi ingat janji selalu dihantui dengan ingkar. Nah berkaca dari problema yang ada, rencana melakukan olahraga terpaksa batal karena ada seseorang teman yang tiba-tiba berhalangan hadir. Kesendirian membuat anda mengambil keputusan untuk mengganti hari berlari menjadi esok, besok, ataupun lusa.

Pahamilah, jika berkaca pada realita yang ada, tentu anda bukan satu-satunya orang yang memiliki tekat untuk hidup sehat. Kebanyakan hanya berbentuk rencana, butuh sebuah pematik yang mampu membakar semangat untuk sesegera mungkin berlari meninggal rumah sejenak, dan menjelajahi alam luas sambil melatih stamina sembari membakar kalori.

Jika masih dilanda kebingungan, tak ada salahnya anda bergabung dengan sebuah project bernama “A Year of Running,” sebuah grup yang digagas oleh empunya Facebook, Mark Zuckerberg. Suami dari Pricilla ann tersebut mencoba menyebarkan tantangan fisik untuk menyambut tahun 2016, kepada 47 juta followers-nya untuk membuat tujuan yang sama, dengan rencana berlari 365 mil atau sekitar 587 km.

Tertarik bergabung? Langsung saja mencari A Year of Running di halaman Facebook anda, nantinya anda akan bergabung dengan 85 ribu anggota lainnya. Sebagai sebuah tantangan project ini cukup menarik, karena kita bisa menantang siapa saja berlari dengan jarak 1 mil sehari dengan kecepatan sedang, hanya dengan mengalokasikan 10 menit sehari. Dan membagikan moment tersebut di grup. Ayo bergabung..

Fakta Sehat:

  • Berlari 30 menit mampu membakar sekitar kalori (±) 183 kcal.
Inspirasi
Antara Mollo, Filosofi Kehidupan, Dan Mama Al...

Antara Mollo, Filosofi Kehidupan, Dan Mama Aleta

Nama Mollo bagi sebagian orang tak terlalu akrab ditelingga, namun ketika Anda memiliki waktu luang untuk sejenak berselancar di mesin pencari, maka secara otomatis salah satu etnis suku Dawan yang mendiami Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur (NTT) akan didapat. Menarik membahas etnis satu ini, bukan karena prestasi yang macam-macam, terlebih karena filosofi hidup yang mereka adaptasi secara turun temurun dari leluhur mereka.

Oel Fani On Na’ (air adalah darah), Nasi Fani On Nafua (pepohonan adalah rambut), Afu Fani On Nesa (tanah adalah daging), Fatu Fani On Nuif (batu adalah tulang). Ke-empat filosopi tersebut mampu membentuk pemahaman bahwa orang Mollo menghargai, menghormati, menjaga dan memperlakukan alam layaknya tubuh mereka sendiri. alam layaknya suatu bagian yang tak terpisahkan dalam aliran darah mereka.

Ironinya, pada tahun 1900-an kekuatan kapitalis berbentuk indutri tambang yang berfokus mengekploitasi dan mengeklorasi batu marmer mengancam kehidupan masyarakat Mollo yang telah turun-temurun men-sakralkan pegunungan mutis (lokasi penambangan). Hingga muncul satu nama yang kuat melakukan protes keras dan upaya konservasi terhadap gunung yang juga sebagai kawasan pemasok air bagi penduduk di pulau tersebut.

Aleta Baun, atau yang akrab disapa dengan panggilan Mama Aleta. Ikon masyarakat mollo satu ini, benar tak lulus SMA. Tetapi prestasinya tentu membuat kita yang berada di kota besar akan tercengang mendengarnya. Mendapat penghargaan The Goldman Environtmental Prize di San Fransisco, California, Amerika Serikat, pada tahun tahun 2013 menjadi bukti mata dunia terfokus pada wanita yang lahir di Lelobatan, Mollo, Timur Tengah Selatan 16 April 1963 silam.

Penghargaan tersebut diberikan atas prestasi beliau yang berjuang mempertahankan lingkungan hidup dari ancaman pertambangan. Tindakan-tindakan beliau sebagai motor penggerak mulai dari menyadarkan kembali etnis Mollo serta melakukan advokasi hingga perusahaan tambang angkat kaki dari daerah tersebut tentunya patut diberikan apresiasi yang besar.

Mulai dari berhadapan dengan masyarakat yang pro tambang ditambah pemerintah setempat yang menuduhnya menyerobot hutan. Hingga muncul pengunguman untuk menangkap dan membunuh mama Aleta. Tak terhitung pula ancaman demi ancaman pembunuhan didapat olehnya, Hal itu justru tak membuat ia kehilangan nyali, perjuangan terus dilakukan tanpa mengenal kata lelah. Hingga pada 2001 ia sukses mengusir investor tambang.

Sebagai anak ke-6 dari 8 bersaudara dan terlahir di dalam lingkaran keluarga petani, membuatnya sejak kecil dekat dan menyatu dengan alam. Makanan dari hutan, obat-obatan dari hutan, bahkan perwarna alami terus disajikan alam demi ragam kebutuhan manusia. Hubungan spiritual kuat seperti ini tentu tak dimiliki seluruh manusia yang mendiami bumi. Maka dari itu, banyak masyarakat lokal yang mendukung aktivitas mama Aleta, mengingat pertambangan dapat merusak sumber pangan mereka.

Jika bisa menyandingkan figurnya dengan ragam figur wanita kuat lainnya yang pernah ada, maka jelas di Indonesia sendiri, figur Kartini atau Srikandi era modern jelas bersanding dengan namanya.

“Perempuan tak hanya dapat melakukan pekerjaan rumah seperti memasak, tetapi juga harus gencar memerangi kerusakan alam yang dapat menghilangkan sumber pangan. Jika tidak ada hutan, mereka tidak mempunyai kayu sebagai sumber bahan bakar, jika tidak ada air, mereka juga tidak dapat memasak.”

-Mama Aleta-